"Udah ah,, gue ngga mau hidup gue MAIN-MAIN terus.."

Written on 12:30 AM by Ringga Ardianto

Hidup itu untuk dinikmati! umm...... Setuju!

Banyak cara untuk menikmati hidup, salah satunya adalah dengan bermain.

Waktu masih kecil, bermain punya arti harfiah yaitu benar-benar bermain.. main ular tangga, main petak umpet, main benteng, dampu, semuanya benar-benar bermain dalam arti sebenarnya.

Setelah remaja, bermain udah mulai punya arti yang sedikit lebih luas. Bermain jadi punya pengertian kumpul sama teman-teman. Di umur segitu, kita nyebutnya bermain walaupun cuma ketawa-ketawa dan ngobrol berisik khas ABG.

Udah mulai dewasa dikit, bermain punya arti lain lagi, bisa bebas dari tugas kuliah juga bisa dibilang waktunya bermain. terkadang di fase ini bermain juga digunakan untuk dunia percintaan, Bermain Cinta! or should i write it Having Sex? :P

Dewasa, anggaplah fase ini dewasa dari segi usia, bukan dari segi pemikiran dan perilaku.
Bermain Cinta pasti masih jadi pengertian dari bermain. Tapi MAIN dalam fase ini ternyata punya arti yang sangat luas, terkadang artinya bisa membuat orang yang mengalaminya menjadi resah, tidak tenang dan merasa menyia-nyiakan hidup.
Definisi MAIN di usia dewasa punya arti yaitu menjalani hidup yang tidak tentu arah.

MAIN = pacaran tidak serius.
MAIN = kerja hanya buat uang tanpa tahu apakah sebenarnya menikmati atau tidak.
MAIN = belum punya apa-apa dari segi materi kalau dibandingkan dengan orang lain di umur yang sama.
MAIN = tidak berpikir panjang,, yaaa seperti waktu kita kecil. Ngomong ngga mikir, ngelakuin sesuatu ngga mikir efeknya.

Hhhmm.. jadi sebenarnya hidup kita selalu penuh dengan bermain.
Does it mean life is like a game? Bisa jadi.

kalau memang hidup seperti permainan berarti harusnya kita bermain terus kan? tapi kenapa ya banyak orang yang Saya kenal sering sekali bilang : "Udah ah,, gue ngga mau hidup gue MAIN-MAIN terus.."

Saya yakin semua orang pernah ada di fase "Udah ah,, gue ngga mau hidup gue MAIN-MAIN terus.."

di fase ini biasanya seseorang memikirkan kembali apa yang ingin dia capai dalam hidupnya, mencari arti dan tugasnya di dunia. di fase ini kita bisa melihat orang itu semangaaaat sekali untuk membuat hidupnya menjadi TIDAK main-main lagi.

tapi,, Saya juga sering sekali menemukan kalimat "Udah ah,, gue ngga mau hidup gue MAIN-MAIN terus.." dari ORANG yang SAMA berulang kali.

hmm.. apa orang ini sangat mendalami arti Life is like a game yaaa. sampai akhirnya Main-Main lagi dalam hidupnya? padahal orang ini udah pernah mengalami fase mengucapkan kalimat sakti "Udah ah,, gue ngga mau hidup gue MAIN-MAIN terus.."

atau memang ternyata walaupun banyak dari kita sampai di fase memikirkan dan mengucapkan kalimat sakti tersebut tapi ternyata kita TIDAK BERANJAK dari fase itu?

jadi.. kalimat Life is like a game salah dong? padahal faktanya dari kecil sampai sekarang hidup kita penuh dengan permainan..

Saya ngga setuju..
LIFE IS ALWAYS LIKE A GAME, YOU JUST HAVE TO KNOW HOW TO PLAY IT RIGHT!
if you don't know how to play it right, maybe you will say :

LIFE'S A BITCH.

and then you die.

Year End Syndrome

Written on 7:05 AM by Ringga Ardianto

Perilaku manusia menjelang pergantian tahun berdasarkan umur.

Umur 5 tahun : Ngga perduli tahun berapa, boro-boro tahun, ngebaca jam aja belum bisa..


Umur 15 tahun : Sibuk mikir gimana yaaa caranya bilang sama orang tua mau tahun baruan bareng temen-temen, padahal dalam hati udah yakin pasti ngga akan diijinin..

Umur 25 tahun : Party, party, party,,,,!!! setelah party hard baru mikir jangan sampai nih foto-foto bar-buk beredar luas..

Umur 30 tahun : Waktunya untuk merenung, sampai akhirnya mendapatkan jawaban bahwa dunia itu kejam karena sampai umur segini belum punya pasangan, terus terbayang akan menghabiskan masa tua sendirian di Panti Jompo.


Happy New Year...!

Zouk Out 2008

Written on 6:46 AM by Ringga Ardianto




What a party.....!!!!!!!!


December 13th 2008 at Siloso Beach, Sentosa Island Singapore.

Egois,, egois...!!!

Written on 2:29 AM by Ringga Ardianto

Jumat, 5 Desember 2008.

1.35 am

“Kamu ternyata ngga sesayang itu sama aku, buktinya buat ngomong aja kamu ngga berani. Aku nunggu, aku nunggu..!”

Aku tersentak. Hanya bisa diam.

1.36 am

“Itu dia masalahnya, aku ngga pernah benar-benar tahu kamu sayang sama aku apa ngga. Kamu lebih suka menikmati perasaan itu sendiri. Kamu egois, egois..!”


Masih terdiam.
Untuk kedua kalinya kalimat itu hadir di hadapanku.

1.37 am.

Hening.
Tunggu dulu, tidak benar-benar sunyi. Aku masih bisa mendengar isak pelan dari tangisan.

Sel-sel berwarna kelabu di dalam tempurung kepalaku mendadak hiperaktif. Sibuk mencerna kalimat yang terucap. Ini masalah sepele pikirku, hanya masalah perasaan yang belum terungkap. Coba bandingkan dengan psikotes saat melamar pekerjaan, masalah ini tidak ada satu persennya. Perbedaannya hanya pada durasi, semua ini sudah tertahan belasan tahun. Harusnya hanya otak kanan yang bekerja, jangan libatkan otak kiri ini. Tapi kenapa mereka merasa bahwa sekarang mereka harus kompak dan menjadi lebih histeris bekerja?.

1.41 am.


1.52 am.

Aku pasrah.
Kalimat itu begitu nyata. Ingin kuhentikan waktu agar semuanya berhenti di sini saja.
Tolong jangan lanjutkan.
Aku sudah tahu apa yang akan terjadi..


Tolong aku... sekali ini saja.



Takdirku sebagai manusia biasa berbicara.. Ya.. Aku memang hanya manusia, belum bisa menghentikan waktu. Kalimat demi kalimat mengisi jalannya waktu.

1.55 am.

Dan kalimat yang aku sudah tahu akhirnya muncul.

Aku berserah.

Pelan dan sambil menahan isakan, kalimat ini diucapkan.

“Aku cuma mau bilang, lain kali kalau kamu sayang sama orang…, ngomong, ngomong ya!. Jangan sampai orang itu ngga tahu kalau ada orang yang luar biasa seperti kamu sayang sama dia.”



Satu helaan nafas,


selesai sudah. Tak ada yang tersisa.

2.00 am.


Rentetan kalimat yang saya pikir tidak akan saya temukan lagi.
Tapi ternyata, Alexandria (Julie Estelle, Marchel Chandrawinata, dan Fachri Albar)
ditayangkan di SCTV,
dan saya menontonnya lagi.

Lengkap dengan ikut menggumamkan soundtracknya yang dinyanyikan oleh Peter Pan.

Aaacchhh… what a guilty pleasure..!



tak bisakah kau menungguku

hingga nanti tetap menunggu

tak bisakah kau menuntunku

menemani jalan hidupku



I know you can sing it.. come on people, dive into your guilty pleasure. :)

Manusia bukan Tikus.

Written on 1:56 AM by Ringga Ardianto

Cuma orang gila yang mau menerima sebuah tawaran kosong.

Sebuah tawaran seharusnya datang dengan segudang mimpi dan angan indah tentang sebuah perjalanan di masa depan. Sebuah tawaran tidak selayaknya menyodorkan realita.
Mana ada orang yang mau menjadikan kenyataan sebagai dasar dari mimpinya?


Ada?.

Semua orang membangun impian dari khayalan, bukan dari kenyataan.
Terlalu sakit ketika kita meletakkan hal yang nyata sebagai dasar dari apa yang kita ingin bangun. Begitu kata mereka.


Cuma orang yang tidak punya pikiran yang bisa mengerti bahwa ketika tawaran kosong itu hadir dia merasa bahwa itulah yang selama ini dicarinya, apalagi ketika sebenarnya tawaran kosong itu bukan satu-satunya pilihan yang dia miliki. Tawaran kosong itu hadir menyempil ditengah tawaran lain yang penuh dengan isi dan harapan.
Mana ada orang yang mau benar-benar menapakkan kakinya ke tanah ketika ada jalan lain yang memang lebih menggiurkan walaupun jalan itu membuatnya tidak menginjak bumi?

Ada?

Hidup ini bukan judi kawan!. Begitu kata mereka.



Cuma orang sakit yang berani berkata bahwa dia tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan.
Semua makhluk di bumi ini paham benar bahwa selalu ada kata tawar menawar. Harga diri saja bisa ditawar, masa yang lain ngga bisa.
Setiap orang bisa berubah wujud menjadi orang jenius dan penuh filosofi lalu hadir dengan ucapan “Semua pasti ada solusinya, win win solution lah..!”

Begitu kata mereka.


Mereka….


Yang takut ketika yang mereka temui adalah tawaran kosong.


Susah memang untuk melenyapkan ketakutan ini.

Manusia bukan tikus.


Tikus takut kepada kucing bukan karena dia tahu kucing itu akan memakannya. Tikus takut kepada kucing karena ada gen dalam tubuhnya yang mengatur rasa takut kepada kucing itu. Saat sebuah percobaan untuk menghilangkan sekumpulan kromosom penakut itu dilakukan. Ternyata berhasil!. Tikus tidak lagi takut kepada kucing.

Tapi sekali lagi.

Manusia bukan tikus yang rela tubuhnya dirusak untuk menghilangkan gen penakut itu.


Manusia masih membutuhkannya supaya tidak dicap gila, tidak punya pikiran, dan sakit. Walaupun gen itu menjadikan kakinya tetap berjarak dengan bumi.